3 PRINSIP DASAR PERNIKAHAN

3 PRINSIP DASAR PERNIKAHAN

1. Prinsip Kesatuan

Pernikahan bukan 1+1=2, tetapi 1+1=1

Kejadian 2:24                                                                                                                                                                        Sebab itu seorang laki- laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

 

Matius 19:5-6                                                                                                                                                                         Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Pernikahan menyatukan dua pribadi yang berbeda menjadi satu. Salah satu caranya adalah komunikasi. Anda harus berusaha untuk membangun komunikasi  yang saling terbuka atas dasar saling percaya, saling berharap yang terbaik, dan saling mengasihi. Dan Tujuan komunikasi adalah lahirnya hubungan yang lebih erat dan intim; lahirnya kesepakatan dalam keputusan. Butuh kerendahan hati dan kemurahan hati dan juga diperlukan kebesaran hati untuk membangun kesatuan hati di antara kita. Oleh karena itu, kehidupan setiap pasangan haruslah hidupnya hanya berfokus kepada teladan hidup Kristus, yang murah hati, yang rendah hati dan besar hati. Kristus selalu menganggap kita lebih penting dari pada diri-Nya sendiri sehingga Dia rela berkorban dan mati buat kita. Dan itulah wujud kasih Kristus.

Filipi 2:1-8                                                                                                                                                                                       Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji- pujian yang sia- sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap- tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Di mana ada kesepakatan di sana ada otoritas; di mana ada otoritas di sana ada berkat, mujizat dan hidup yang kemenangan di dalam rumah tangga.

Matius 18:19                                                                                                                                                                                  Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.

Mazmur  133:1-3                                                                                                                                                                Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

2. Bangunlah sikap tenggang rasa oleh karena itu pernikahan seharusnya bisa memberi “RUANG GERAK” kepada pasangannya.

Filipi 2:5                                                                                                                                                                              Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

Pernikahan suami istri seharusnya tidak atau jangan bersikap terlalu ingin tahu segalanya tetapi berikanlah ruang gerak kepada pasangan.  Jika Anda bisa membangun rasa hormat, tenggang rasa dengan memberikan ruang gerak bagi pasangan maka hal itu akan semakin memiliki daya tarik kepada pasangannya.

Pernikahan bukan untuk memiliki, menguasai, atau mendominasi pihak lawan atau pasangan tetapi pernikahan itu sebenarnya adalah kesatuan dua pribadi yang berusaha untuk membangun sikap saling menghormati; rasa hormat terhadap pasangan adalah ekspresi kasih yang sejati sekalipun pasangan itu adalah orang yang paling dekat. Apabila masing-masing memberikan ruang gerak maka bisa muncul kreatifitas dan produktifitas dalam membangun hubungan yang lebih baik.

3. Pernikahan bukanlah ruang pengadilan negeri untuk memutuskan siapa yang benar atau siapa yang salah.

Rumah tangga bukanlah tempat untuk membuat perhitungan.  Rumah tangga adalah tempat bersekutu dengan Tuhan, rumah adalah tempat bersekutu dengan keluarga untuk berbicara tentang kasih dan perbuatan Tuhan.

Roma 12:15-18                                                                                                                                                           Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara- perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara- perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!  Sedapat- dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!

Pernikahan adalah 2 orang yang menjalani hari-hari bersama-sama, bersekutu bersama, dengan tujuan untuk menjadi teladan iman, menjadi berkat dan berguna bagi orang lain. Namun jika dalam setiap hal Anda mau saling mengusut dan menyelidiki sesuai dengan “prinsip-prinsip hukum” sampai tuntas, terus mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, kemudian membuat perhitungan maka hal itu hanya akan membuat diri kita menjadi lelah dan sulit membangun hubungan yang tulus dan murni.

Alkitab menasehati kita, “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat- dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! (Roma 12:17-18).

Bagaimana kita bisa menerapkan atau menjalani prinsip pernikahan di atas?

Mazmur  127:1-2                                                                                                                                                                Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia- sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia- sialah pengawal berjaga- jaga. Sia- sialah kamu bangun pagi- pagi dan duduk- duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah– sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai- Nya pada waktu tidur.

Mazmur 127:1-2, memberikan kita kunci sukses menjalani hidup pernikahan yaitu kita harus membangun kesadaran bahwa kita adalah orang yang dicintai Tuhan. Kita harus berani percaya bahwa Tuhan mengasihi kita dan pasangan kita.  Jika kita mengerti bahwa kita adalah orang yang dicintai Tuhan, maka kita akan memiliki rasa hormat, tunduk dan kasih kepada pasangan kita.

Sebagai bukti Tuhan yang membangun rumah tangga adalah Kasih Kristus haruslah menjadi Dasar Kehidupan Suami Istri. Anda harus lebih sungguh-sungguh dengan Tuhan.  Ciri Anda hidup dalam Kasih Kristus adalah “Anda suka memberikan Pengampunan.”  Anda akan diberkati dan dipakai oleh Tuhan. Jangan lupakan Tuhan dalam setiap langkah dan keputusan Anda.

Efesus 5:22-33                                                                                                                                                                                Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.  Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.  Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri- Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,  supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri- Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,  karena kita adalah anggota tubuh- Nya.  Sebab itu laki- laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing- masing berlaku:kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

 

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.