GBI MUSI PALEM INDAH
Doa, Pujian dan Penyembahan

MEMPERSIAPKAN UMAT YANG LAYAK BAGI TUHAN

MEMPERSIAPKAN UMAT YANG LAYAK BAGI TUHAN

Lukas 1:16-17
ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.”

Kita harus menyiapkan diri untuk menjadi UMAT YANG LAYAK BAGI TUHAN, yaitu suatu umat yang layak untuk ditolong, layak untuk diberkati dan layak untuk dipercayakan hal-hal besar dan mulia dari Tuhan, layak untuk diluputkan pada hari pencobaan dan diangkat pada hari kedatangan Tuhan.

Namun syaratnya adalah kita harus menjadi umat yang layak untuk dicontoh dan diteladani “dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1 Timotius 4:12).

Dengan kata lain, kita harus menjadi seseorang  yang bisa menyebabkan orang lain memiliki hubungan yang baik, dekat dan intim dengan Tuhan Yesus Kristus.

Salah satu cara menjadi umat yang layak bagi Tuhan adalah mematahkan kebiasaan buruk serta mengembangkan dan memelihara kebiasaan yang baik. Suatu kebiasaan adalah hal-hal yang telah kita lakukan begitu sering sehingga kita dapat melakukannya tanpa berpikir lebih dahulu.

Kita bisa mempunyai kebiasaan yang baik, seperti makan sehat, olah raga teratur, bayar tagihan pada waktunya, menjaga rumah tetap bersih atau menghabiskan waktu dengan pelajari firman Tuhan.

Kita bisa mempunyai kebiasaan yang buruk, seperti makan terlalu banyak jajanan, menggigit jari kuku, tidak memelihara harta benda, menonton acara televisi yang mempromosikan gaya hidup yang duniawi dan tidak baik.

Kebiasaan terbentuk melalui “pengulangan atau latihan.”

Jika Anda berusaha mematahkan kebiasaan buruk dan berusaha untuk mengembangkan kebiasaan yang baik, Anda harus punya komitmen untuk mengulangi pemikiran atau tingkah laku yang baru secara teratur.

Pada awalnya tidak mudah karena Anda tidak terbiasa. Itu perlu diprogramkan ke dalam sikap dan tindakan melalui pengulangan. Itu membutuhkan disiplin, tentunya, tetapi saya dapat meyakinkan Anda, manfaat dari memutuskan kebiasaan buruk dan menumbuhkan kebiasaan baik memang tidak sia-sia.

Untuk dapat menjadi “umat yang layak bagi Tuhan” kita perlu mematahkan kebiasaan buruk serta mengembangkan dan memelihara kebiasaan baik. Ada beberapa kebiasaan baik yang harus dilatih agar kita umat yang layak bagi Tuhan:

1. JADIKANLAH KEBIASAAN MELUANGKAN WAKTU BERSAMA TUHAN

Apabila kita ingin menjadi umat yang layak bagi Tuhan, kita harus memiliki waktu yang teratur untuk berkomunikasi dengan Allah dan mendengarkan firman-Nya.

Iblis, musuh  jiwa kita mengetahui bahwa pada saat orang-orang percaya berdoa maka kuasa Allah yang dahsyat akan dilepaskan dari sorga ke bumi. Dan Iblis akan berusaha keras melakukan segala cara untuk menghalangi kita menghabiskan waktu bersama Tuhan.

Ia tahu bahwa kita akan menjadi sangat efektif sebagai orang Kristen jika kita suka berdoa, jadi ia berusaha mengganggu kita, membuat kita terlalu sibuk untuk berdoa dan beribadah, atau meyakinkan kita bahwa Tuhan tidak mendengar doa-doa kita. Dan semuanya ini adalah DUSTA. Jangan percayai semua dusta iblis ini.

Dan saya juga memahami keenganan Anda. Beberapa orang dari kita telah berusaha untuk membangun kebiasaan bersaat teduh, tetapi tidak pernah berhasil. Ada yang merasa kesulitan untuk berkonsentrasi. Dan, kita semua sibuk.

Jadi, alih-alih meluangkan waktu bersama Tuhan, mendengarkan suara-Nya, malahan kita menyuruh orang lain meluangkan waktu bersama Dia kemudian memanfaatkan pengalaman mereka. Kita meminta mereka memberitahu apa yang Tuhan firmankan, atau kita menanyakan mereka “dapat” apa dari Tuhan?

Jika pengalaman rohani Anda berasal dari orang lain dan pengalaman rohani itu tidak Anda alami sendiri, saya ingin menantang Anda dengan pemikiran ini: Apakah Anda juga melakukannya terhadap bagian lain di dalam hidup Anda? Saya rasa tidak.

Anda tidak akan menyuruh orang lain pergi liburan setelah orang itu kembali, Anda hanya ingin mendengar semua cerita liburannya dan Anda tidak mau merasakan capeknya dan ketidaknyamanan liburan yang ia rasakan. Dan Anda hanya mau dapat enaknya saja.

Saya percaya Anda ingin melihat sendiri pemandangan indah dari mata Anda sendiri, Anda juga ingin menikmati indahnya suasana di lokasi tersebut. Dan Anda juga ingin berisitirahat di sana.

Ada hal-hal tertentu yang tidak dapat dilakukan orang lain bagi Anda.

Anda pun tidak akan menyuruh orang lain pergi makan atas nama Anda atau mewakili Anda? Anda tidak akan berkata, “Aku gak mau capek-capek mengunyah makanan itu. Aku mau menyewa seseorang untuk mengunyah makananku, dan aku yang menelan makanan yang sudah dikunyah dari mulutnya.” Apakah Anda akan melakukan hal ini? Menjijikkan bukan? Tentu saja Anda tidak akan melakukan hal ini.

Anda pun tidak akan menyuruh orang lain untuk bermesraan dengan kekasih Anda. Selanjutnya Anda meminta dia menceritakan pengalamannya itu kepada Anda.

Ada hal-hal tertentu yang tidak dapat dilakukan orang lain bagi Anda. Dan salah satunya adalah meluangkan waktu bersama Tuhan.

Mendengarkan firman Tuhan adalah pengalaman masing-masing orang.

Tatkala Tuhan meminta perhatian Anda, Dia tidak ingin Anda mengutus seseorang untuk mewakili Anda. Dia menginginkan Anda. Dia mengundang Anda untuk menikmati hadirat-Nya. Dia mengundang Anda untuk merasakan sentuhan tangan kasih-Nya. Dia mengundang Anda makan sehidangan dengan-Nya. Dia ingin meluangkan waktu bersama Anda. Dan, dengan melatih kebiasaan meluangkan waktu bersama Tuhan bisa menjadi waktu-waktu yang sangat berharga dalam hidup Anda.

Pilihlah waktu dan tempat yang teratur untuk bersaat teduh bersama Tuhan.

Bagi beberapa orang, barangkali waktu yang paling tepat adalah pagi hari. “Waktu pagi doaku datang ke hadapan-Mu” (Mazmur 88:14).

Ada juga yang memilih malam hari dan sepakat dengan doa Daud, “Biarlah doaku adalah … Seperti persembahan korban pada waktu petang” (Mazmur 141:2).

Ada yang duduk di dalam kamar, ada pula yang melakukannya di ruang kerja pada jam makan siang. Carilah waktu dan tempat yang paling pas buat Anda.

Berapa lama waktu yang harus saya luangkan? Sebanyak yang Anda perlukan. Utamakan kualitas dibanding durasi waktu teduh. Waktu Anda bersama dengan Tuhan harus cukup lama bagi Anda untuk mengungkapkan apa yang Anda inginkan dan bagi Allah untuk mengatakan sesuatu yang Dia kehendaki.

Semua ini menuntun kita untuk menggunakan Alkitab yang terbuka untuk dibaca dan dipelajari. Allah berbicara melalui firman-Nya. Langkah pertama dalam membaca Alkitab adalah meminta Allah untuk menolong Anda memahaminya.

2 Korintus 3:18, “Dan kita semua mencerminkan (dalam firman Tuhan) kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.”

Dengan kata lain, karena kita terus mempelajari firman Tuhan, kita terus menerus diubahkan dan ditransformasikan untuk menjadi orang yang lebih baik (umat yang layak bagi Tuhan).

Yohanes 8:31-32, “Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku (memegang teguh ajaran-Ku dan hidup menurut ajaran itu), kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Mempunyai kebiasaan menjalani kehidupan menurut firman Tuhan akan memampukan Anda untuk mengetahui kebenaran, yang akan memerdekakan Anda dari belenggu jenis apa pun yang mempengaruhi kehidupan Anda.

Saya ulangi: salah satu kebiasaan terbaik yang dapat Anda kembangkan adalah menghabiskan waktu bersama Tuhan.

Berdoa, beribadah, membaca dan mempelajari firman Tuhan, serta mendengarkan suara-Nya. Peliharalah persekutuan Anda dengan Tuhan secara hati-hati dan pastikanlah supaya persekutuan itu menjadi suatu kebiasaan yang kuat dalam hidup Anda.

Menghabiskan waktu bersama Tuhan akan meningkatkan sukacita dan menyebabkan Anda menantikan masa depan dengan penuh harapan. Dan di dalam hadirat-Nya ada sukacita senantiasa (Mazmur 16:11).

2. JADIKANLAH KEBIASAAN MENJAGA HATI NURANI ANDA TETAP MURNI

Kita tidak akan pernah lagi hidup dengan rasa bersalah dan rasa terhukum apabila kita telah mengenal dan mempercayai kasih Allah dalam hidup kita (1 Yohanes 4:16-17).

Kita tahu bahwa Tuhan Yesus telah mati untuk mengampuni dosa-dosa kita serta membebaskan kita dari segala tuduhan bersalah dan penghukuman. Dan setiap kali kita sadar dan bertobat maka Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan kita (1 Yohanes 1:9).

Oleh karena itu, kita tidak perlu atau tidak mempunyai alasan untuk menjalani kehidupan yang dikuasai oleh rasa bersalah dan rasa terhukum.

Salah satu cara terbaik untuk memelihara hati nurani yang murni adalah berusahalah untuk melakukan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna di dalam anugerah Tuhan.

Dalam Kisah 24:16 Rasul Paulus mengatakan, “Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup (mematikan kedagingan, mematikan hawa nafsu, selera tubuh, dan keinginan duniawi, mengupayakannya dengan segala cara) dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.”

Rasul Paulus mengatakan bahwa ia senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia dengan mematikan kedagingan, hawa nafsu duniawi dan berusaha dengan segala cara untuk melakukan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

1 Korintus 9:27, “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”

Rasul Paulus menjelaskan bahwa ia harus memelihara “keselamatannya” dengan cara melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan dia sendiri ditolak oleh Tuhan. Dan inilah artinya hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.

Tidak ada seorang pun yang sempurna.

Jika hati nurani kita menuduh bahwa kita telah bersalah karena kita tahu bahwa kita telah salah memperlakukan orang lain maka kita seharusnya mengakuinya tanpa pembelaan atau membenarkan diri sendiri; datanglah kepada Tuhan dan orang yang kepadanya kita telah berbuat salah tersebut untuk minta diampuni.

Jika kita dikuasai oleh rasa bersalah dan rasa terhukum maka kita tidak akan dapat menjadi efektif bagi Tuhan, dan kita pun tidak dapat menikmati hidup yang berbahagia.

Namun apabila Anda percaya bahwa Anda telah diampuni dan Anda hidup dengan hati nurani yang murni maka Anda akan mengalami kemerdekaan hidup dan Tuhan pun dapat memakai hidup Anda dengan cara-cara yang ajaib.

3. JADIKANLAH KEBIASAAN HIDUP DENGAN IMAN YANG POSITIF

Saya yakin bahwa hidup dengan iman yang positif memang bisa menjadi suatu kebiasaan yang baik sebab iman itu bersifat praktis dan merupakan suatu kebiasaan yang dapat ditumbuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Secara sederhana, iman adalah keyakinan dan kepastian.

Iman adalah sikap yang positif (yang tentunya dapat menjadi suatu kebiasaan) dan suatu keyakinan yang mendasar kepada Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.

Iman memperkuat kita untuk bersikap optimistis dan penuh harapan tentang apa yang tidak dapat kita lihat (Ibrani 11:1).

Iman adalah pandangan yang postif tentang Tuhan serta kemampuan-Nya dan kerelaan-Nya untuk menolong kita.

Iman selalu menantikan sesuatu yang baik akan terjadi.

Jika kita hidup oleh iman, kita menjalani kehidupan hari demi hari dengan mempercayai Tuhan dalam segala sesuatu yang terjadi. Iman hari ini adalah hasil dari mempercayai hari kemaren kepada Tuhan dan mempercayai Tuhan untuk hari esok. Iman mempercayai bahwa akan ada kasih karunia untuk hari esok. Oleh iman inilah kita bisa mengalami berkat dan mujizat Tuhan sepanjang hidup kita.

4. JADIKANLAH KEBIASAAN MELAKUKAN SESUATU YANG TERBAIK

Kita harus mendorong diri kita untuk bisa mencapai hasil-hasil yang terbaik (unggul) dalam apa pun yang kita lakukan. Tuhan adalah Tuhan yang unggul. Segala yang dilakukan oleh Tuhan, hasilnya adalah unggulan atau kelas satu. Dia selalu melakukan yang terbaik dan mencapai hasil-hasil yang sempurna.

Sebagai duta besar Kerajaan Allah, kita seharusnya menjadi orang-orang yang unggul juga. Paulus mendesak kita untuk “dapat memlih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat” (Filipi 1:10).

Apabila kita mau bergerak maju melampaui keadaan yang biasa-biasa saja dan membangun kebiasaan untuk melakukan sesuatu yang terbaik dalam hidup ini maka kita akan merasakan sukacita Tuhan dan menjadi teladan yang baik bagi dunia.

Salah satu cara untuk memastikan bahwa kita ingin membangun kebiasaan melakukan yang terbaik dan berusaha untuk mencapai hasil-hasil yang terbaik (unggul) maka kita harus “memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan.” (Matius 7:12).

Berikut beberapa cara yang praktis sehari-hari untuk bisa dilakukan:

  • Janganlah tinggalkan sampah atau kotoran untuk dibersihkan orang lain; janganlah bikin keadaan berantakan untuk dirapihkan orang lain.
  • Biasakan mengucapkan kata: “tolong” dan “terima kasih.”
  • Tersenyumlah
  • Jangan fotokopi bahan untuk sekolah minggu atau Cool di mesin fotokopi tempat kerja Anda tanpa izin.
  • Jangan sela orang lain sementara mereka sedang berbicara kecuali itu mendesak.
  • Jangan berbohong tentang apa pun.
  • Jangan bersikap tidak jujur dengan cara apa pun.
  • Buatlah orang lain merasa berharga.

Daftar ini dapat dilanjutkan. Saya yakin bahwa Anda mempunyai pengertian yang baik tentang bagaimana Anda ingin diperlakukan. Jadi ingatlah saja itu sementara Anda berinteraksi dengan orang lain.

Sesuatu yang kita lakukan adalah sebutir benih yang kita tabur. Kita harus bertekad untuk menjadi unggul. Jika kita ingin menuai hasil panen yang unggul maka kita harus menolak godaan untuk menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja.

Jika kita unggul dalam setiap hal, kita akan menjadi orang-orang Kristen yang efektif. Dan inilah yang disebut menyiapkan “suatu umat yang layak bagi Tuhan.”

5. JADIKANLAH KEBIASAAN UNTUK BERSIKAP MURAH HATI

Kita hidup di dunia yang penuh dengan orang-orang yang egois, kikir dan tamak. Tetapi Tuhan ingin kita untuk bersikap ramah dan murah hati.

Bahkan 2 Korintus 9:7 memberitahukan kita, “Allah mengasihi orang yang memberi (murah hati) dengan sukacita.”

Saya telah menyadari bahwa tidak ada yang lebih indah dan tida ada yang bisa membuat kita lebih berbahagia selain menolong dan memberi bantuan kepada orang lain. Saya mendorong Anda untuk membangun kebiasaan memberi dan menjadi orang yang suka memberi dengan sukacita dan sukarela dalam setiap cara yang dapat Anda pikirkan.

Misalnya: Memberi bantuan, memberikan dorongan, memberikan pujian, memberikan uang, memberikan hadiah, memberikan diri sendiri, memberikan waktu, memberikan bakat dan kemampuan, dan memberikan pengampunan.

Memberi membuat Iblis marah. Iblis inginnya kita bersikap egois, mementingkan diri sendiri, kikir dan tamak. Orang yang mementingkan diri sendiri adalah orang-orang yang paling sengsara dan tidak produktif di bumi ini.

Orang-orang Kristen yang egois tidak berguna dan tidak berbuah dalam kerajaan Tuhan. Tetapi orang-orang yang memberi dengan sukacita dan murah hati adalah orang-orang yang bahagia, puas, dan efektif. Orang-orang yang murah hati adalah umat yang layak bagi Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.