Kisah Barnabas Vs Ananias & Safira: Ketulusan dan Kejujuran.
Kisah Barnabas Vs Ananias & Safira: Ketulusan dan Kejujuran.
Hari ini, kita akan merenungkan sebuah kisah dari Kisah Para Rasul yang mengajarkan kita tentang kejujuran, integritas, dan konsekuensi dari motivasi hati.
Kita akan membandingkan dua peristiwa yang sekilas tampak mirip, namun memiliki hasil yang sangat berbeda: Kisah Barnabas dan Kisah Ananias serta Safira.
Kisah ini terjadi pada masa awal gereja, saat orang-orang percaya hidup dalam persekutuan yang mendalam.
Mereka dipenuhi oleh Roh Kudus dan mereka memiliki semangat berbagi yang luar biasa. Banyak yang menjual harta milik mereka dan membagikan hasilnya kepada yang membutuhkan, bukan karena paksaan, tetapi karena hati yang digerakkan oleh kasih.
Ini adalah masa di mana budaya memberi dengan murah hati menjadi bukti nyata dari iman mereka.
Ternyata, motivasi hati yang berbeda membawa hasil yang sangat berbeda. Dari kisah ini kita belajar bahwa Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi mengintai motivasi hati di balik tindakan kita.
Kisah Para Rasul 4:36–37 & 5:1–11
36 Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.
37 Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.
1 Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta isterinya Safiramenjual sebidang tanah. 2 Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul.
3 Tetapi Petrus berkata: ”Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? 4 Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.”
5 Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu. 6 Lalu datanglah beberapa orang muda; mereka mengapani mayat itu, mengusungnya ke luar dan pergi menguburnya.
7 Kira-kira tiga jam kemudian masuklah isteri Ananias, tetapi ia tidak tahu apa yang telah terjadi. 8 Kata Petrus kepadanya: ”Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?” Jawab perempuan itu: ”Betul sekian.”
9 Kata Petrus: ”Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar.” 10 Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus dan putuslah nyawanya. Ketika orang-orang muda itu masuk, mereka mendapati dia sudah mati, lalu mereka mengusungnya ke luar dan menguburnya di samping suaminya. 11 Maka sangat ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu.
⸻
#1. Barnabas memberi dengan Hati yang Murni di hadapan Tuhan.
Kisah 4:36–37
Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh para rasul disebut Barnabas — yang berarti anak penghiburan — seorang Lewi dari Siprus. Ia memiliki sebidang tanah, lalu ia menjualnya dan membawa uangnya untuk diletakkan di kaki para rasul.
Di tengah-tengah semangat berbagi ini, muncullah seorang pria bernama Yusuf, yang oleh para rasul dijuluki Barnabas, yang berarti “anak penghiburan“.
Mengapa ia mendapatkan julukan ini?
Barnabas menjual tanahnya, membawa seluruh hasilnya, dan memberikannya kepada jemaat dengan hati yang tulus.
Barnabas bermaksud tidak hanya ingin memberi, tetapi dia juga ingin menghibur jemaat yang susah dan dia ingin membangun komunitas di geraja mula-mula
Hasil dari ketulusan dan kejujuran hatinya tidak berhenti di situ.
Di kemudian hari, ketika Paulus—yang saat itu masih dibenci dan ditakuti oleh para rasul karena masa lalunya sebagai penganiaya orang Kristen—datang ke Yerusalem, tidak ada yang berani menerimanya. Mereka semua curiga. Barnabaslah yang mengambil risiko untuk menjembatani Paulus. Ia membawa Paulus kepada para rasul dan menceritakan bagaimana Tuhan telah mengubah hidupnya.
Barnabas menjadi jembatan antara masa lalu yang penuh kegelapan dan masa depan yang penuh harapan bagi Paulus.
Tanpa Barnabas, mungkin pelayanan Paulus tidak akan pernah dimulai.
Karena Barnabas, kita mempunyai kitab Roma, Efesus, Filipi dan kitab-kitab lain yang ditulis oleh rasul Paulus.
Barnabas juga berperan dalam melahirkan Yohanes Markus dalam pelayanan. Hati yang tulus dalam memberi melahirkan pengaruh yang besar bagi Kerajaan Allah. Karena Barnabas pula, kita mempunya Injil Markus yang ditulis oleh Yohanes Markus, keponakannya itu.
⸻
#2. Motivasi Hati Kita Menentukan Nilai Persembahan Kita di Hadapan Tuhan.
Kisah Barnabas ini diikuti oleh kisah yang tragis, yaitu kisah Ananias dan Safira. Mereka juga memiliki sebidang tanah dan menjualnya. Tetapi, berbeda dengan Barnabas, mereka menahan sebagian dari hasilnya sambil berpura-pura memberikan seluruhnya kepada para rasul.
Kisah 5:3–4
Ananias, mengapa hatimu dipenuhi Iblis untuk mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari harga tanah itu?…
Engkau bukan mendustai manusia, melainkan mendustai Allah.”
Dosa mereka bukanlah karena menahan sebagian uang.
Tanah itu adalah milik mereka, dan uangnya pun milik mereka.
Mereka sebenarnya bebas melakukan apa pun dengan uang itu.
Dosa mereka adalah dosa kemunafikan dan kebohongan di hadapan Roh Kudus. Mereka berbohong demi mendapatkan kemuliaan, pujian dan pengakuan manusia. Jadi yang dipermasalahkan Tuhan adalah kemunafikan hatinya.
Alkitab melarang kita mengambil Hak Tuhan:
1. Pujian Penyembahan (Kemuliaan) adalah Hak Tuhan (Wahyu 4:11). Jika kita mencuri kemuliaan bagi Tuhan, kita akan menyimpan dan hidup di dalam dosa: keangkuhan, kemunafikan, dusta.
2. Pembalasan adalah Hak Tuhan (Roma 12:19, Ibrani 10:30). Jika kita menuntut pembalasan, kita akan menyimpan dan hidup dalam dosa: keangkuhan, kemarahan, kebencian, kepahitan.
3. Persembahan Persepuluhan adalah hak Tuhan (Maleakhi 3:10). Jika kita menahan persembahan persepuluhan, kita akan menyimpan dan hidup dalam dosa: keangkuhan, keserakahan, kekuatiran.
Konsekuensinya sangat mengerikan. Karena dosa kemunafikan dan kebohongan itu, Ananias dan Safira langsung mati di tempat.
Peristiwa ini menimbulkan rasa takut yang besar di seluruh gereja, yang merupakan “rasa takut yang kudus” kepada Tuhan. Tuhan menunjukkan dengan jelas betapa seriusnya Dia memandang ketidakjujuran dan kemunafikan, terutama di tengah-tengah umat-Nya.
Motivasi Hati Adalah Segalanya.
Tuhan tidak melihat jumlah uang yang kita berikan, melainkan hati yang ada di baliknya.
Barnabas memberi dengan hati yang tulus untuk menghibur jemaat, sementara Ananias dan Safira memberi dengan motif tersembunyi untuk mendapatkan kemuliaan dan pujian manusia.
Kisah Ananias dan Safira adalah peringatan keras bahwa Tuhan adalah Allah yang kudus. Kebohongan yang kita anggap sepele adalah dosa yang serius di hadapan-Nya, terutama ketika kita melakukannya dengan harapan mendapatkan pengakuan palsu.
⸻
#3. Orang yang Tulus dan Jujur akan Dipakai Tuhan Sebagai Jembatan Berkat.
Barnabas bukan hanya memberi harta, tetapi memberi hidupnya untuk membangun orang lain.
Ketulusan dan Kejujurannya itu membuat dia jadi jembatan:
- Menghubungkan Paulus dengan para rasul dan jemaat Yerusalem.
- Memberi kesempatan kedua bagi Yohanes Markus.
- Membawa pengaruh bagi gereja non-Yahudi.
Sebaliknya, Ananias & Safira menutup masa depan mereka sendiri karena ketidakjujuran.
Jadilah seperti Barnabas—orang yang memberi dengan hati tulus, yang membangun dan yang membesarkan hidup orang lain.
Tuhan sedang mencari “anak-anak penghiburan” di zaman ini: orang yang hatinya tulus dan jujur sehingga hidupnya bisa jadi saluran berkat dan pengaruh kekal.
1. Pertanyaannya: Apa Motivasi Hati Anda saat Memberi, Melayani, dan Hidup di tengah jemaat-Nya, keluarga, komunitas?
• Apakah hati yang tulus dan jujur seperti Barnabas?
• Atau hati yang ingin dipuji seperti Ananias & Safira?
2. Teladanilah jalan hidup Barnabas, seorang yang tulus, jujur dan dipenuhi Roh Kudus sehingga hidup kita menjadi jembatan berkat bagi banyak orang.